POV Ningrum
Kenalkan namaku Ningrum usiaku 45 tahun. Aku adalah Ibu dari tiga orang anak yaitu Eko 23 tahun, Fitri 17 tahun, dan Nia 15 tahun. Suamiku Haryo berusia 48 tahun bekerja sebagai PNS di Dinas Pendidikan di Kota Magelang sedangkan aku membuka warung kecil-kecilan di depan rumah untuk membantu perekonomian keluarga karena gaji suamiku sebagai PNS terkadang kurang mencukupi untuk kebutuhan kami berlima.
Namun akhir-akhir ini kondisi ekonomi keluargaku agak menurun. Suamiku juga mulai agak pelit dalam memberikan uang bulanannya padaku ditambah lagi penghasilan dari warungku tidak ada penambahan secara signifikan membuat kondisiku jadi semakin sulit. Aku curiga bahwa suamiku memiliki wanita idaman lain karena melihat perangainya belakangan ini yang agak kurang perhatian terhadap kami dan juga sering keluar kota tanpa alasan jelas.
Pada suatu malam sehabis berhubungan badan dengan suamiku, secara iseng aku mencoba mengecek HPnya, ketika kubuka fitur WA dan Telegram disitu kulihat percakapan mesra antara suamiku dengan seorang wanita muda berusia 25 tahun bernama Ratih yang juga berprofesi sebagai PNS sama seperti suamiku. Awalnya mereka hanya bertemu dalam sebuah seminar yang diadakan di Kota Solo tempat Ratih bekerja dan tinggal disana.
Namun lama-kelamaan hubungan mereka jadi makin akrab saling bertukar pesan mesra di WA dan Telegram bahkan sering bertemu tanpa sepengatuhuanku dan anak-anak. Melihat bukti tersebut aku menangis melihat perbuatan suamiku yang saat ini tengah tertidur pulas. Aku pun berkata “Kenapa kamu mengkhianatiku mas?
Aku pun beringsut ke arah cermin besar yang ada di meja riasku. Kulihat tubuhku dengan tinggi 163 cm dan berat 65 kg serta payudara ukuran 36B ini menurutku masih cukup bagus walaupun agak berisi karena sudah melahirkan 3 orang anak. Aku berpikir apakah aku harus membalas perbuatan suamiku dengan berselingkuh dengan lelaki lain seperti yang dia lakukan kepadaku?
Tapi dengan siapa aku harus berselingkuh? Bagaimana dengan anak-anakku nanti jika tau Ibu dan Ayahnya saling berselingkuh dibelakang? Oh sungguh aku tidak ingin membuat anak-anakku menjadi tambah sedih terutama kepada Nia dan Fitri yang masih bersekolah. Aku mencoba cara lain untuk mengobati kesedihanku ini.
Beberapa hari kemudian, aku berpikir untuk menjual anting-anting emas yang ada di kedua telingaku ini. Anting-anting emas ini sebenarnya pemberian dari suamiku di hari ulang tahun pernikahan kami setahun yang lalu dan selalu kupakai tanpa pernah melepasnya. Namun karena aku kecewa terhadap perselingkuhan suamiku ditambah dengan ekonomi keluarga kami yang agak menurun aku memutuskan untuk menjual antingku ini.
Aku pun meminta bantuan anak sulungku Eko untuk melepaskan antingku ini. Setelah berusaha selama hampir setengah jam rupanya dia tidak berhasil melepaskan anting-anting di kedua telingaku. Eko beralasan anting-antingku sulit untuk dilepas dan dia menyarankan agak aku tidak menjualnya sembari mencari solusi lain yang dirasa lebih tepat.
Keesokan harinya ketika aku sarapan dengan Eko dan kedua adiknya yaitu Nia dan Fitri, kulihat dia mencuri-curi pandang ke arah payudaraku dan kebetulan memang hari itu aku memakai dress warna hijau yang agak ketat sehingga membuat payudaraku terlihat sangat menonjol. Kulihat tatapan mata Eko seperti tatapan seorang lelaki pada wanita bukannya tatapan seorang anak pada Ibunya.
Setelah sarapan kedua putriku Nia dan Fitri langsung pamit ke sekolah sedangkan Eko pergi kamarnya untuk mengambil berkas-berkas yang tertinggal sementara aku pergi ke dapur untuk membereskan sisa sarapan kami tadi. Setelah selesai aku pun bermaksud untuk ke ruang depan untuk bersih-bersih. Saat sedang berjalan aku berpapasan dengan Eko yang baru saja keluar dari kamarnya.
Tidak kusangka ternyata Eko malah memeluk erat tubuhku. Aku pun kaget karena aku tahu betul watak Eko selama ini yang cuek dan jarang mau berdekatan denganku tiba-tiba sekarang ini malah memeluk tubuhku dengan erat. Aku pun dengan naluri keibuanku langsung reflek membalas pelukannya dengan lebih erat.
Mendengar ucapannya itu aku pun terharu dengan menitikkan air mata sambil menjelaskan alasanku menjual anting-anting karena alasan kondisi ekonomi keluarga saat ini yang tengah menurun. Tentu saja aku tidak memberitahukan tentang perselingkuhan Ayahnya selama ini kepada Eko karena aku tahu kalau sampai Eko mengetahui perilaku Ayahnya tersebut dia pasti akan marah besar.
Eko pun menghibur hatiku sambil menggombal bahwa aku lebih cantik jika tetap memakai anting-anting. Aku tersipu malu dengan perkataannya ditambah lagi dengan ciuman Eko di kedua pipiku membuatku bahagia bahwa anakku ternyata juga bisa memberikanku perhatian dengan lebih baik dibandingkan dengan Ayahnya.
Setelah membersihkan ruang depan secara cepat. Aku langsung menuju kamar mandi dimana terletak ember cucian yang menumpuk untuk dicuci. Saat akan mencuci pakaian, pandangan mataku terttuju BH dan CD berwarna cream yang kupakai semalam. Setelah kuperiksa aku kaget setengah mati, kulihat CDku berlumuran cairan putih kental dan ketika kucium baunya aku langsung tahu bahwa itu adalah cairan sperma.
Pertanyaannya sperma siapakah ini? Apakah ini milik Eko? Yang jelas satu-satunya penghuni lelaki di rumah saat ini hanyalah Eko karena suamiku sekarang tidak berada dirumah. Oh Eko, kenapa kamu bernafsu sama Ibu? Apakah Ibu masih sangat menggoda di hadapanmu sehingga kamu sanggup melakukan ini? Aku membatin sambil terus melanjutkan cucianku.