situs toto

Ustadzah Alisha Episode 06

« Prev Daftar Episode EP 6/14 Next »

Ustadzah Alisha mendengar suara pintu kamar mandi ditutup, lalu suara pancuran air yang deras. Kamar mandi mereka. Ia memaksa tubuhnya bergerak dengan cara merangkak. Di lantai teronggok hijabnya di samping kaos oblong hitam kotor milik pemuda itu.

Suara pancuran berhenti. Hening sejenak. Jantung Ustadzah Alisha serasa diremas. Ia panik. Ia harus berpakaian. Ia harus menutupi diri. Ia buru-buru menarik selimut bernoda itu, melilitkannya di tubuh.

Terlambat.

Pintu kamar mandi terbuka.

Darto keluar. Rambut basah, menetes. Dia tidak memakai celananya. Sekonyong, Ustadzah Alisha melihat apa yang ia pakai. Handuk Farhan. Handuk biru tua yang biasa dipakai suaminya setelah mandi. Kini handuk itu melilit longgar di pinggang Tukang Galon itu. Darto berjalan santai mengambil handuk kecil milik Ustadzah Alisha di meja rias. Mengeringkan rambutnya dengan itu.

“Handuk Ustadzah wangi,” kata Darto, tersenyum.

“Itu handuk kepunyaan suami saya.” berkata Ustadzah Alisha.

“Saya tahu,” katanya. “Udah saya pakai. Jadi punya saya sekarang.”

Pemuda itu tidak langsung pergi. Ia duduk di kursi meja rias. Kursi tempat Ustadzah Alisha biasa bersolek tipis. Kemudian dikeluarkannya sebatang rokok.

“Jangan merokok di sini, Darto…”

Darto membakarnya. Mengembuskan asap ke arah cermin. “Kenapa? Bau? Tadi Ustadzah cium mulut saya,” Ustadzah Alisha memerah padam. Tak bisa membantah. “Ganti spreinya.” Ustadzah Alisha terdiam. “Nanti suami Ustadzah curiga,” Darto melanjutkan. “Nanti dia cium bau saya di bantalnya.”

“Besok saya datang lagi,” katanya. “Jam yang sama.”

“Saya… saya ada urusan…”

“Saya gak peduli,” potong Darto. “Ustadzah atur aja. Saya datang. Besok Saya mau Ustadzah yang di atas. ”

Tubuh Ustadzah Alisha merespon lagi. Di balik selimut, ia bisa merasakan kemaluannya yang nyeri itu berdenyut basah. Sialan betul nafsunya. Darto bangkit. Mematikan rokoknya di cawan keramik hiasan di meja rias. Ia menepuk pipi Ustadsah Alisha. “Jangan lupa dibersihin. Saya gak mau berbagi.” Kemudian ia memakai kausnya dan pergi, meninggalkan bau tembakau pekat di kamar itu.

Ustadzah Alisha sendirian.. Kemudian bergerak. Panik. Ia lucuti sprei itu, ia kumpulkan hijabnya yang ternoda, ia bawa ke kamar mandi. Saat ia sedang memasukkan sprei ke mesin cuci, ponselnya berdering. Ia berlari.

Nomor Zubaidah.

“Assalamualaikum, Ustadzah…” Suara Zubaidah terdengar ceria.

“Waalaikumsalam, Zubaidah. Ada apa?”

Terdengar tawa kecil. “Maaf ganggu, Ustadzah. Tadi pagi saya niatnya mau ke rumah, mau tanya soal… mahar,”

“Oh, iya… silahkan…”

“Tapi pas saya sampai kayaknya Ustadzah lagi ‘sibuk’ ya?”.

ustadzah Alisha menelan ludah.

“Saya di depan pagar. Saya lihat motor Darto… terus saya dengar… Ustadzah kayaknya lagi kesakitan?”. Suara Zubaidah kini berbisik, penuh makna. “Suara Ustadzah kenceng juga, ya?”

Ustadzah Alisha terduduk di lantai dapur. Ponselnya nyaris jatuh.

“Nanti sore saya datang ke pengajian ya, Ustadzah. Saya mau duduk paling depan. Mau dengar Ustadzah ceramah soal menjaga kehormatan,”

KLIK.

Zubaidah menutup telepon.

***​

Sore itu, Masjid Al-Nurul terasa menyesakkan. Ustadzah Alisha berjalan ke mimbar. Tubuhnya masih sakit. Pantatnya masih perih. Vaginanya ngilu. Dia sudah mandi wajib, mengenakan gamis bersih dan wewangian, tetapi ia masih merasa kotor. Para jamaah, ibu-ibu kampung Damai , menatapnya dengan takzim. Menatap sang ‘ahli surga’. Kemudian ia melihatnya. Zubaidah. Duduk di barisan paling depan, persis seperti janjinya. Ia tersenyum manis ke arah Ustadzah Alisha.

Ustadzah Alisha membuka catatannya. Tema hari ini: “Kepatuhan Istri dan Benteng dari Godaan Setan,” Ironi yang brutal.

Ia mulai bicara. “Seorang istri… adalah tiang rumah tangga. Ia… ia harus menjaga… kehormatannya…” Matanya bertemu dengan mata Zubaidah. Zubaidah mengangguk pelan, seolah sangat setuju.

“Dan pabila seorang istri berlaku menyimpang terhadap kesetian pernikahan mereka…”. Sekonyong, ia teringat suara Darto (“Bilang, ‘masukin lagi, Darto’…” ). Ia teringat tamparan di pantatnya. Ia teringat dirinya menjerit.

Kalimatnya terputus. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya. Ia terbatuk.

“Ustadzah sakit?” tanya seorang jamaah dari samping.

“Maaf… tiba-tiba… tidak enak badan.” Ia mempercepat ceramahnya. Mengutip dalil-dalil tentang neraka. Mulut yang sama yang tadi pagi menjeritkan nama Darto. Zubaidah hanya menatap, senyumnya tak luntur. Selesai pengajian, Zubaidah menghampirinya. “Ustadzah pucat sekali,” kata Zubaidah sambil memegang lengan Alisha. “Pasti capek sekali ya, Ustadzah. Tadi pagi ‘kerja keras’.” Bisikan itu halus, di antara kerumunan ibu-ibu lain yang hendak bersalaman.

Ustadzah Alisha menarik lengannya. “Saya permisi.” dan ia

kabur.

*

**​

“Ustadzah! Ustadzah Alisha, tunggu!”

Ustadzah Alisha mempercepat langkahnya, nyaris t

ersandung ujung ga

misnya sendiri. pura-pura tak dengar. Mungkin Zubaidah akan menyerah. Mungkin—Sebuah tangan halus namun kokoh mencengkram lengannya. Ustadzah Alisha tersentak, terpaksa berhenti. Ia berbalik. Zubaidah berdiri di hadapannya, tersenyum manis.

“Ustadzah jalannya cepat sekali,” Zubaidah berkata. “Kayak dikejar sesuatu. Ada yang ketinggalan, Ustadzah?”

Ustadzah Alisha menarik lengannya, tetapi cengkeraman Zubaidah mengerat sesaat sebelum melepasnya. agaknya itu peringatan. “Saya harus segera pulang, Zubaidah. Nana sendirian.”

“Ah, Si Kecil Nana,” Zubaidah mengangguk-angguk. Ia mulai berjalan di samping Ustadzah Alisha, menyamakan langkahnya. “Tadi ceramahnya bagus sekali, Ustadzah. Menyentuh sekali. Terutama bagian soal menjaga kehormatan itu. Saya jadi tercerahkan.”

Ustadzah Alisha hanya mampu bergumam tak jelas.

“Saya jadi kepikiran,” lanjut Zubaidah. “Soal ‘kerja keras’ yang Ustadzah bilang pagi tadi. Saya, kan, dengar. Sepertinya. Darto membantu Ustadzah… sungguh-sungguh, ya?”

Darah serasa surut dari wajah perempuan alim itu. Ia berhenti lagi. Mereka kini di bawah pohon sawo yang rindang. Beberapa ibu-ibu lain melewati mereka, melempar senyum takzim.

“Maksud kamu apa, Zubaidah?”

Zubaidah terkekeh pelan. Sungguh mengerikan tawanya itu. “Maksud saya? Lho, Ustadzah. Saya, kan, dengar suara Ustadzah. Kencang sekali. Saya kira Ustadzah kesakitan. Makanya saya khawatir. Tapi, kok, didengar-dengar lagi. jeritannya bukan jeritan sakit, ya?” Zubaidah memajukan wajahnya sedikit. “Itu ngapain aja, Ustadzah? Kok, kayaknya seru sekali?”

Pertanyaan itu, dilontarkan dengan nada genit dan polos, menghantam Ustadzah Alisha lebih keras daripada tamparan Darto di pantatnya. Ngapain aja. Sebuah pertanyaan sederhana yang merangkum segala kekacauan pagi tadi.

“Jaga ucapan kamu, Zubaidah!” Ustadzah Alisha akhirnya berkata, meski bergetar hebat. “Itu fitnah!”

“Um

i!” Nana kembali berseru kaget. “Umi kenapa, sih?”

“Umi… Umi mau ke dapur. Bikin… bikin minum.” Kalimat itu keluar terbata-bata. Sekonyong ia berbalik dan melangkah cepat-cepat, nyaris berlari, menuju dapur.

“Bikinin saya juga, Ustadzah!” Darto berseru di belakangnya. “Yang manis. Saya suka yang manis-manis!”

***​

Di dapur, Ustadzah Alisha bersandar di meja konter. Kedua tangannya mencengkram pinggiran meja batu itu. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Napasnya memburu bagaikan sehabis berlari. Sambil memejamkan mata, Ustadzah Alisha mencoba mengusir bayangan jemari itu. Tetapi Ia gagal.

Langkah kaki terdengar di belakangnya. Bukan langkah kaki kecil milik Si Kecil Tukang Rengek. Ini langkah kaki berat dan diseret-seret. Adalah Darto, berdiri di ambang pintu dapur, menghalangi jalan keluar.

“Saya bantu, Ustadzah.”

“Tidak perlu.” Ustadzah Alisha berbalik, membelakangi Darto. Ia membuka lemari kabinet, meraih dua gelas. “Kamu kembali saja ke ruang tamu. Kasihan Nana.”

“Nana bisa main sendiri.”

Darto melangkah masuk. Ruang dapur itu sempit. Seketika terasa sesak. Ustadzah Alisha membuka kulkas, mengambil botol sirup dan es batu. Ia merasakan Darto berdiri tepat di belakangnya.

“Minggir, Darto.”

“Kenapa, Ustadzah? Takut?”

Darto tidak minggir. Sebaliknya, ia melingkarkan kedua tangannya; menempatkan kedua telapak tangannya di meja konter, di kedua sisi tubuh Ustadzah Alisha. Perempuan alim itu kini terperangkap. Terkurung di antara tubuh Darto di belakang dan meja konter di depan.

“Umi! Om!” Suara Nana terdengar lagi, kini lebih dekat. “Mainnya di dapur aja, ya?”

Jantung Ustadzah Alisha serasa melompat ke tenggorokan.

“Jangan kesini, sayang!” seru Ustadzah Alisha, melengking panik. “Umi… Umi lagi numpahin… sirup! Lantainya lengket! Nana di sana saja!”

“Oh… oke, Umi!” Si Kecil Nana kembali menjauh.

Ustadzah Alisha masih membelakangi Darto. Terkurung dalam lingkaran tangan Tukang Galon itu.

“Ustadzah bohongnya pinter juga,” Hembusan Nafas Darto di telinganya, membikin bulu kuduk Ustadzah Alisha meremang.

Kemudian, ia merasakan sesuatu yang keras menekan punggung bawahnya, tepat di belahan pantatnya. Darto menggesekkan kemaluannya yang sudah tegang dari balik celananya.

“Darto… jangan…” Ustadzah Alisha merintih.

“Jangan apa, Ustadzah?” Tangan kanan Darto bergerak dari meja konter. Kemudian mendaratkannya di pinggul Alisha. Meremasnya.

“Sesuai janji, kan?” katanya lagi. “Hari ini Ustadzah yang di atas.”

Tangan Darto yang lain bergerak ke perut Ustadzah Alisha. Merayap naik, mencari kaitan bra dari balik gamis. Ustadzah Alisha terkesiap, ia mencoba memutar tubuhnya, tetapi cengkeraman Darto di pinggulnya terlalu kuat.

“Di sini… sempit,” kata Ustadzah Alisha, mencari alasan apa saja. “Nana… Nana bisa lihat.”

“Justru itu serunya, Ustadzah.”

Tangan Darto di perutnya sekonyong bergerak ke bawah. Untuk kemudian menyelusup ke dalam gamisnya dari ujung bawah, merayap naik di sepanjang betisnya yang telanjang. Ustadzah Alisha memekik tertahan. Ia tidak mengenakan celana dalam. Kenapa? Ia pun tak tahu.

Jemari itu kini telah mencapai pahanya. Kemudian Ustadzah Alisha mendesah. “Darto…” katanya. Tubuhnya luruh. Lututnya lemas. Ia akan jatuh jika Darto tidak menahan pinggulnya.

“Udah basah lagi,” Darto terkekeh. Jemarinya kini telah mencapai bibir kemaluan Ustadzah Alisha. Ia tidak ragu. Dua jarinya langsung menusuk masuk ke dalam lubang yang licin itu.

“Nnggh!” Ustadzah Alisha membekap mulutnya sendiri dengan tangan yang bebas. Matanya terbelalak, menatap dinding dapur di depannya. Kepalanya tersentak ke belakang, membentur dada Darto.

Darto mulai menggerakkan jari-jarinya. Keluar-masuk. Cepat dan kasar.

“Om! Umi!” Suara Nana terdengar lagi. “Nana bosen!”

Darto menghentikan gerakan jarinya, tetapi tidak mengeluarkannya. “Jawab, Ustadzah,” perintahnya.

Ustadzah Alisha terisak, air mata mengalir di pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya. “I-iya, sayang… Sebentar lagi… Umi… Umi lagi…”

“Lagi apa, Umi?”

Darto memutar jarinya di dalam. Ustadzah Alisha menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah.

“Lagi… bikin kue!” pekiknya.

Darto tertawa pelan di belakangnya. Ia menarik jari-jarinya keluar. Suara plop basah terdengar. Ustadzah Alisha terkulai lemas, bersandar sepenuhnya pada tubuh Darto.

“Ustadzah nurut, ya,” kata Darto sebelum kemudian membalik tubuh Ustadzah Alisha dengan paksa, sehingga kini perempuan itu menghadapnya. Darto menatapnya sejenak. Kemudian, ia membuka resleting celananya. Ia tidak melepaskan celananya. Ia hanya mengeluarkannya. Kemaluan berbulu lebat itu menyembul, tegang dan basah.

“Janji kemarin,” kata Darto. “Ustadzah di atas.”

Ia tidak menunggu jawaban. Darto sekonyong mengangkat Ustadzah Alisha, mendudukkannya di atas meja konter. Gamis perempuan itu tersingkap hingga ke pinggang.

“Darto, jangan! Ini… ini meja…” Ustadzah Alisha panik, sambil mencoba bergeser mundur.

Darto menahan kedua pahanya, membukanya lebar-lebar. Ia berdiri di antara kedua kaki Ustadzah Alisha yang terjuntai.

“Posisi Ustadzah sudah di atas,” katanya. Ia memegang kemaluannya, mengarahkannya ke lubang vagina Ustadzah Alisha yang terbuka dan basah. “Sekarang… masukin.”

Ustadzah Alisha menggeleng hebat. “Engga… engga…”

“Masukin,” Darto menggeram. Kemudian meraih tangan Ustadzah Alisha, memaksanya memegang kemaluannya sendiri. “Atau saya yang masukin. Tapi saya gak bakal pelan-pelan.”

Di ruang tamu, Si Kecil Nana mulai bernyanyi. Lagu anak-anak yang riang.

Dengan pasrah, Ustadzah Alisha memegang benda keras dan panas itu, mengarahkannya, dan mendorong pinggulnya ke depan.

Sungguh ia memasukkan kemaluan Darto ke dalam tubuhnya sendiri.

“Aah…” Desah itu lolos begitu saja. Membuatnya segera menutup mulutnya. Dirasainya tubuhnya terasa penuh dan sesak.

Darto tersenyum puas. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggul Ustadzah Alisha.

“Mulai,” perintahnya.

“Ap-apa?”

“Gerak. Naik-turun. Ustadzah yang pegang kendali?”

Ustadzah Alisha membuka matanya. Ketika ia menatap Darto, terdapat kebencian di sana, tetapi juga ada sesuatu yang lain. Setelah menghirup udara, Kemudian, ia mengangkat pinggulnya sedikit, lalu menurunkannya kembali.

Satu kali.

Dua kali.

Setiap gerakan terasa menyakitkan sekaligus… ia tak tahu. Ia hanya menuruti perintah.

“Nana!” Darto tiba-tiba berseru.

Ustadzah Alisha membeku, kemaluan mereka masih menyatu.

“Iya, Om?”

“Kata Umi bawa Lego lagi dari kamar Nana! Coba Nana cari, ya! Yang warna biru!”

“Oke, Om!” Terdengar suara langkah kaki Nana berlari menjauh.

“Pinter,” bisik Darto pada Ustadzah Alisha. “Sekarang kita punya waktu.”

Ia mencengkeram pinggul Ustadzah Alisha lebih erat. “Lebih cepat, Ustadzah. kita gak punya banyak waktu.”

Ustadzah Alisha mulai bergerak lebih cepat. Naik dan turun. Tubuhnya yang terbalut gamis bergesekan dengan kaus kotor Darto. Suara decit kulit bertemu kulit mulai terdengar, bercampur dengan suara dentingan es batu di gelas yang ia lupakan.

Darto mencondongkan tubuhnya ke depan. Mulutnya mencari dada Ustadzah Alisha. Ia menyibak gamis dan bra-nya, lalu melahap puting perempuan itu.

“Nghh… Darto… ja-jangan…” Ustadzah Alisha terengah-engah. Ia memegangi bahu Darto untuk menjaga keseimbangan. Ia tak bisa menahannya lagi. Dapur ini terlalu terbuka. Suara Nana bisa terdengar kapan saja. Tetapi sensasi putingnya yang dihisap kasar sementara kemaluannya ditusuk dari bawah sungguh membuatnya tak alang merasa nikmat.

“Saya mau… keluar…” geram Darto.

“Jangan di sini!” pekik Ustadzah Alisha panik. “Jangan di dalam! Darto!”

Tetapi Darto tidak mendengarkan. Ia malah mencengkeram pinggul Ustadzah Alisha, menahannya agar tidak bergerak, sementara ia sendiri menghunjam ke atas berkali-kali.

Ustadzah Alisha menjerit. Tetapi ia tidak orgasme. Tepat ketika ia merasa akan meledak, Darto berhenti.

Pemuda itu menarik kemaluannya keluar.

Seketika.

“Hah… hah…” Ustadzah Alisha terengah-engah, tubuhnya luruh ke depan, bersandar di dada Darto. Nyaris ia pingsan. Darto, anehnya, tidak memuntahkan cairannya. Masihlah pula kemaluannya tegang. Kemudian ia terkekeh. Merasa puas akan Kebohongannya, yang untuk menakut-nakuti Ustadzah Alisha.

“Di sini kurang enak, Ustadzah.” katanya. “Terlalu terburu-buru.”

Kedua tangannya berada di ketiak Ustadzah Alisha. Berangsur-angsur diturunkannya Ustadzah Alisha dari meja.

“Om! Gak ada yang biru!” Suara Nana kembali terdengar, mendekat.

Darto dengan cepat merapikan gamis Ustadzah Alisha. Kemudian menarik perempuan itu, mendorongnya ke sudut, di antara kulkas dan dinding, bersembunyi.

“Tadi Umi Nana bilang begitu!” Darto berjalan ke pintu dapur, menghalangi pandangan Si Kecil. “Kayaknya Om salah denger deh.”

“Om, kok, keringetan?” Nana bertanya polos.

“Panas, Nana. Dapur Umi panas sekali.” Darto tertawa. “Ayo kita kembali ke ruang tamu. Om haus.”

Darto menoleh ke belakang, ke sudut tempat Ustadzah Alisha bersembunyi.

“Ustadzah,” panggilnya. “Minumnya.”

Ustadzah Alisha, dengan sisa tenaga yang ia punya, mendorong dirinya dari dinding. Kemudian berjalan bagaikan mayat hidup. Mengambil gelas yang tadi ia siapkan, menuangkan sirup dan air dengan tangan yang bergetar hebat. Es batunya sudah mencair. Lalu membawa nampan itu ke ruang tamu.

Darto dan Si Kecil Nana sudah kembali duduk di karpet. Darto mengambil gelas itu dari tangan Ustadzah Alisha. Sekejap meminumnya sekali teguk. “Ah… segar,” desahnya. Ia meletakkan gelas itu. “Nana,” katanya.

“Iya, Om?”

“Om capek main di lantai. Kita main di kamar Nana, ya? Di sana ada tempat tidur, kan? Om bisa main sambil tiduran.”

Nana bersorak. “Ayo! Ayo!” Ia bangkit dan berlari lebih dulu menuju kamarnya.

Darto berdiri di hadapan Ustadzah Alisha, yang masih mematung memegang nampan. Pemuda itu tidak berkata apa-apa. Kemudian, ia mengulurkan tangannya.

Bukan untuk meminta sesuatu.

Itu adalah ajakan.

Atau mungkin, perintah.

Ustadzah Alisha menatap tangan yang baru saja menjamahnya itu, yang baru saja menusuknya di dapurnya sendiri.

“Umi! Om!” Suara Nana terdengar kecil dari kejauhan. “Ayo!”

Darto masih menunggu.

Tangannya masih terulur.

Ustadzah Alisha menelan ludah. Diletakannya nampan di atas meja. Kemudian, perlahan, ia mengangkat tangannya. Dan ia meletakkannya di atas telapak tangan Darto.

Pemuda itu menggenggamnya erat.

“Ayo, Ustadzah,” katanya. “Kita selesaikan janji yang kemarin.”

Demikian, ia menarik Ustadzah Alisha, menuntunnya melewati ruang tamu, menuju kamar Si Kecil Nana.

Menuju dosa berikutnya.

« Prev Daftar Episode EP 6/14 Next »
katsu5