Farhan baru saja mengambil sepotong ayam goreng, sementara Si Kecil Tukang rengek sibuk menyendok nasi dengan cepat.
“Abi, tadi Umi jemput Nana terlambat.” kata Si Kecil Nana sambil melirik uminya sebal, penuh nasi di mulutnya, sehingga roman wajahnya terlihat lucu dengan pipi menggelembung.
“Umi lagi sibuk, sayang. Kamu jangan marah-marah sama Umi, Ya?” Farhan berkata kepada si Kecil.
Si Kecil Nana mengangguk.”Tetapi Besok beliin Lego Batman yang baru, ya?”
Farhan menggeleng-geleng sambil melirik istrinya yang fokus menyuap nasi sambil mengangguk kecil. Pikirannya melayang pada percakapan di mobil tadi siang. Sempit, kaya masih perawan. Ia menelan ludah. Di antara perempuan lain yang pernah saya coba. Rasa ngilu yang aneh menjalari dadanya. Ia memikirkan Darto yang membandingkannya dengan pelacur.
“Umi kok diem aja?” Suara Farhan menyentaknya. “Capek banget, ya?”
Ustadzah Alisha buru-buru tersenyum. “Iya, Bi. Agak ramai tadi.” Rasa bersalahnya pada suaminya telah berganti menjadi rasa cemburu yang membakar pada Darto.
***
Malam itu, di kamar tidur mereka, Farhan mematikan laptopnya dan naik ke atas tempat tidur setelah mematikan lampu. Istrinya sudah berbaring membelakanginya, memeluk guling.
Farhan merangkulnya dari belakang, seperti biasa. Ia mencium tengkuk istrinya. “Umi.” bisiknya.
Ustadzah Alisha menegang sebab tangan suaminya mulai bergerak, mencoba masuk ke dalam baju tidurnya.
“Jangan, Bi,”
“Kenapa, Umi? Katanya tadi capek?”
“Badan Umi lagi gak enak.”
Farhan mencoba lagi, membalik tubuh istrinya agar menghadapnya. “Bentar aja, umi.”
“Umi bilang jangan!”
Mendengar suara tinggi dari istrinya, Farhan merasa bingung. Agaknya ia terlalu capek, pikirnya. Kemudian ia menjauhkan tubuhnya dan membelakangi istrinya. Tak pula istrinya pernah berlagak seperti itu.
Ustadzah Alisha bangkit, menarik selimut tebal hingga menutupi lehernya. Matanya memanas. Ia tidak bisa membiarkan suaminya melihatnya dalam kondisi begini; Ia teringat bagaimana Darto mencicipi tubuhnya, meninggalkan jejak-jejak kemerahan di dada dan bahunya. Tanda-tanda itu masih jelas terlihat di kulitnya.
“Umi lagi datang bulan,” demikian ia berbohong.
Farhan menghela nafas panjang, tampak kecewa, tetapi ia tidak memaksa. “Ya udah, mi. Umi tidur ya?” Ia kembali berbaring, membelakangi istrinya.
Ustadzah Alisha mematikan lampu. Dalam kegelapan, ia memeluk lututnya. Ia tidak memikirkan Farhan. Ia memikirkan Darto, dan rasa sakit di dadanya meraung-raung.
Di sampingnya, suaminya telah terlelap. Tetapi Ustadzah Alisha masih terjaga. Rasa dingin menjalari kakinya, meski ia telah menarik selimut hingga ke dada. Kebohongan yang diucapkannya tadi terasa memilukan. Itu adalah kebohongan yang terpaksa, didorong oleh kepanikan. Ia tidak bisa membiarkan suaminya menyentuhnya, tidak saat tubuhnya masih membawa tanda-tanda yang ditinggalkan Tukang Galon itu.
Sangat perlahan, ia menyibak selimut. Untuk kemudian beringsut ke tepi ranjang, berusaha tidak menimbulkan derit sedikit pun. Sekonyong, ia merasa harus keluar dari kamar itu.
Seperti malam-malam sebelumnya ketika ia dilanda gelisah, ia menuju ruang tamu. Duduk di sofa sambil memeluk lututnya, merasakan kesendirian yang meriang. Kemudian Ia menimbang-nimbang. Haruskah ia membiarkannya saja? Tidur, dan melupakan kejadian hari ini? Melupakan rasa perih di hatinya? Tetapi ia tahu ia tidak bisa. Rasa sakit itu — yang aneh dan tidak seharusnya ia rasakan—sangatlah nyata. Ia bukan cemburu. Tentu saja bukan. Ia seorang Ustadzah , seorang istri. Ia hanya terhina. Ya, terhina karena Darto, seorang tukang galon , berani menyamakannya dengan perempuan jalanan.
Ia membuka ponselnya. Tidak ada pesan baru. Kegelisahannya bertambah. Ia tidak sedang menunggu jadwal ceramah atau curhat dari jamaahnya. Ia menunggu Darto. Dan ia membenci dirinya sendiri karena itu. Rasa bersalah atas ikrar pernikahannya yang telah ia khianati kini telah lenyap, tergantikan oleh sesuatu yang lebih mendesak sebab itu menusuk egonya. Sempit, kaya masih perawan. Pujian itu vulgar. Di antara perempuan lain yang pernah saya coba. Kalimat itu adalah biang keroknya.
Kemudian, seolah tahu dirinya tengah dinanti, layar ponsel itu menyala. Satu pesan masuk dari nomor tanpa nama.
“Belum tidur, Ustadzah?” Tulis Darto. “Masih mikirin yang tadi pagi, ya? Saya juga masih kebayang.”
Kian hati Ustadzah Alisha terasa sakit diperlakukan begitu. Kemudian, terbawa suasana . Ia menulis:
“Kamu sering begitu?”
Balasan Darto datang hampir seketika. “Begitu gimana, Ustadzah? Ngentotin Ustadzah?”.
“Bukan! Maksud saya sama perempuan lain!”
“Ustadzah cemburu, ya?
“Saya cuma tidak suka kamu samakan saya dengan mereka!”
Ia mengetik begitu cepat hingga nyaris salah eja.. Mereka. Para pelacur yang diakui Darto. Ia merasa demikian kotor. Seolah-olah dirinya sama murah. Atau bahkan dia tidak memiliki harga. Lihat! Bahkan Darto tak perlu mengeluarkan uang untuk menyetubuhinya.
“Ya jelas beda, Ustadzah. Kalo Ustadzah, kan, istri orang. Alim lagi. Lebih enak. Lebih sempit. Kalo pelacur, ya… bayar, masuk, keluar. Gak ada rasanya.”
Ia membaca kalimat itu berulang-ulang. Gak ada rasanya. Berarti dengannya ada rasanya? Apakah itu sebuah pujian? Atau hanya rayuan murah? Jadi, ia hanya komparasi? Hanya karena ia “alim” dan “istri orang”? Perasaan ingin menjadi satu-satunya semakin menggerogotinya. Ia benci perasaan ini.
“Berapa banyak?”
“Berapa banyak apanya, Ustadzah?”
“Perempuan yang kamu bilang ‘pelacur’ itu.”
Ada jeda panjang. Tanda “mengetik” muncul lalu hilang. Ia bisa membayangkan Darto di seberang sana, barangkali sedang menyeringai cabul.
“Kenapa Ustadzah nanya gitu? Ustadzah mau jadi yang ke berapa?”</p>
Ia melempar ponselnya ke bantal so
fa di sampingnya. Kesal. Ia bangkit, berjalan mondar-mandir dengan kedua lengan terlipat di dada. Ia merasa bodoh. Tentu saja Darto memperlakukannya seperti itu, Darto adalah pemuda cabul yang tidak tamat sekolah. Apa yang ia harapkan? Sebuah pengakuan cinta? Kesetiaan?
Ponselnya berdering lagi. Dengan enggan, ia mengambilnya kembali.
“Saya jujur, Ustadzah. Saya gak pernah ngitung. Tapi saya bersumpah Gak ada yang kayak Ustadzah.”
Hatinya sedikit melunak. Perasaan ingin didengarnya itu sungguh berbahaya.
“Apa bedanya saya? Tulisnya.
“Ustadzah itu… bikin sange. Ustadzah pake hijab, pake gamis , tapi di dalamnya becek. Saya suka yang begitu.”
Ustadzah Alisha mendengus. Bukan itu yang ia cari. Sekonyong ia teringat sesuatu. “apa kamu juga bilang ‘hati-hati’ sama mereka?” Agak malu ia menulis. Merujuk pada ucapan Darto tadi pagi setelah percintaan mereka yang binal. “Hati-hati di jalan, Ustadzah.” Ucapan yang begitu lembut dan tak terduga.
Kali ini, Darto butuh waktu sangat lama untuk membalas. Tanda “mengetik” muncul dan hilang berulang kali. Ustadzah Alisha menahan napas.
“Engga.”
Hanya satu kata itu.
“Cuma sama Ustadzah.” Tulisnya lagi.
Perasaan aneh yang hangat menggantikan rasa ngilu tadi. Ia menggigit bibirnya. Iapun tahu ini jebakan. Dia tahu Darto hanya bermain-main. Tetapi hatinya yang bodoh menghangat. Ia ingin percaya. Ia ingin ucapan lembut Darto tadi siang itu adalah nyata. Sekembali duduk di sofa, tanpa sadar Ustadzah Alisha mengulas senyum tipis.
“Kenapa?”
“Gak tau. Pengen aja. Dan Ustadzah tadi nikmatin, kan? Jujur aja, Ustadzah. Tadi Ustadzah juga meluk saya kenceng. Hampir saya kehabisan nafas.”
“Saya mau tidur dulu.” Ustadzah Alisha berbohong lagi. Sesungguhnya ia tidak mau mengakhiri percakapan, tetapi ia juga tidak mau mengaku.
“Jangan dulu, Ustadzah. Saya mau Ustadzah janji sesuatu.”
“Apa?”
“Besok saya dateng lagi. Pagi, setelah Ustadzah antar si kecil ke sekolah.Saya mau lanjutin yang tadi pagi.”
Ustadzah Alisha mengetik. “Gak bisa, Darto. Saya…” Akan tetapi Darto sekonyong mengirim pesan. “Saya gak terima penolakan, Ustadzah. Dan besok saya harap Ustadzah gak pake celana dalam. Biar gampang.”
Ustadzah Alisha menelan ludah. Perintah yang demikian vulgar, begitu merendahkan, namun seketika itu juga ia merasakan kemaluannya berdenyut basah. Sungguh Ia benci bagaimana tubuhnya merespon Tukang Galon itu.
“Sampe ketemu besok, Bidadari.”
Ia menatap kalimat terakhir itu sebelum mematikan ponseln
ya. Ia tidak membalas “Boleh” atau “Tidak”. Ia beranjak kembali ke kamar. Suaminya masih terlelap dalam posisi yang sama, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi kepadanya. Ustadzah Alisha berbaring di tepian ranjang, sejauh mungkin dari suaminya. Rasa ngilu karena cemburu telah berganti menjadi gemuruh yang menakutkan sekaligus menggairahkan. Ia memejamkan mata, tetapi yang terlihat bukanlah kegelapan. Yang terlihat adalah Darto, dan bayangan hari esok yang telah ia janjikan.
***
Di meja makan pagi itu, keheningan terasa lebih pekat dari biasa. Ustadzah Alisha menunduk, terpaku pada nasi di piringnya yang nyaris tak tersentuh.
“Umi sakit?”
Ustadzah Alisha tersentak, buru-buru mengangkat wajah dan memaksakan seulas senyum. “Engga, Bi. Cuma… masih gak enak badan.”
Itu adalah kelanjutan dari kebohongan semalam, tentu terpaksa ia ucapkan untuk menghindari sentuhan suaminya, sebab ia merasa kotor.
“Umi, nanti Nana mau beli es krim, ya! Pulang sekolah!” Si Kecil Nana berseru.
“Iya, sayang,” jawab Ustadzah Alisha sambil mengusap kepala putrinya. Tetapi dalam hati, pikirannya berpacu liar. Pulang sekolah. Itu berarti ia harus mengantar Nana. Dan setelah itu… ia akan sendirian. Sendirian menunggu kedatangan pemuda itu, sebagaimana janjinya.
Perintah Darto semalam—jangan pake celana dalam —meraung-raung. Pagi tadi, di depan meja riasnya, ia sempat berperang batin. Satu sisi dirinya, sisi Ustadzah, dan istri yang saleh, menjerit ngeri; Tetapi sisi lain, perempuan yang baru saja terbangunkan, yang merasa cemburu sekaligus bergairah, justru merasa tertantang. Ia telah menuruti perintah itu; kepatuhan yang membuatnya merasa terhina, sekaligus, entah kenapa, membuatnya sungguh bergairah.
Sarapan akhirnya usai. Farhan bangkit, menyambar tas kerjanya. “Abi berangkat. Ada rapat pagi.” Ia mengecup kening Nana, lalu beralih pada istrinya. Ustadzah Alisha memejamkan mata sejenak, menahan rasa bersalah yang mendadak menyergap, meski dengan cepat tergantikan oleh debaran lain yang lebih memekakan.
Sepeninggal suaminya, Ustadzah Alisha bergegas menyiapkan Si Kecil Nana. Sepanjang perjalanan mengantar ke sekolah, ia tak banyak bicara. Gemuruh di dadanya kian kencang. Ia melirik jam di dasbor mobil. Pukul tujuh lewat tiga puluh. Darto bilang “pagi”. Seberapa pagi?
“Umi! Udah sampe!” Seruan Nana membuyarkan lamunannya.
Ia mengantar Nana hingga ke gerbang, mengecup pipi putrinya dengan perasaan campur aduk. Ada cinta yang tulus, namun ada pula rasa tak sabar yang ia benci.
“Belajar yang pinter, ya, sayang.”
“Iya, Umi! Jangan lupa es krim!”
Ustadzah Alisha mengangguk, lalu bergegas kembali ke mobil.
***
Rumah itu terasa sunyi. Tetapi bagi Ustadzah Alisha, kesunyian itu memekakkan telinga. Ia mondar-mandir di ruang tamu. Sedang tekanan terus berdatangan, menyiksa dirinya. Ia adalah seorang Ustadzah, dalam artian lain juga panutan , penghafal kitab , yang setiap sore memberi ceramah tentang kepatuhan dan kesalehan. Akan tetapi, di rumahnya sendiri, ia tengah menunggu seorang pemuda cabul yang telah menidurinya.
Ia berdoa. “Ya Allah, lindungi hamba…” Tetapi untuk apa ia berdoa? Tak pula sampai ke langit. Sebab jauh di lubuk hatinya, ia tahu ia tak sungguh-sungguh ingin dilindungi.
Kemudian Ia duduk di tepi sofa, meremas-remas jemarinya. Kakinya ia rapatkan. Sensasi tanpa celana dalam di balik gamisnya membuat bagian bawah tubuhnya terasa dingin. Kemudian, suara langkah langkah kaki di beranda terdengar. Seketika, tubuh Ustadzah Alisha mematung; ia menunduk dan memejamkan mata rapat-rapat…
Sekonyong Darto masuk begitu saja. Ia mengenakan kaus oblong hitam dan celana jins kotor. Rambutnya tampak basah oleh keringat, atau mungkin sisa air wudu—ah, mustahil, pikir Alisha.
Pemuda itu tersenyum simpul melihat Ustadzah Alisha yang terduduk kaku di sofa.
“Sendirian, Ustadzah?” tanyanya santai dan penuh percaya diri. Ia berdiri di hadapan perempuan itu, menatapnya dari atas. “Nungguin saya?”
Ustadzah Alisha mengangkat wajahnya. “Darto… saya… saya mau bilang…”
“Bilang apa?” Darto memotong. “Bilang kalo Ustadzah nurut sama saya?”
Wajah Ustadzah Alisha bersemu merah seketika. “Kamu… jangan kurang ajar!” Sungguh ia berkata seperti itu dengan nada pelan dan mendawai, tak sama sekali mengancam.
“Saya suka kalo Ustadzah udah mulai galak.” Darto berkata. Kemudian, ia melakukan sesuatu yang tak terduga: berjongkok di hadapan Ustadzah Alisha, sehingga wajah mereka sejajar. “Ustadzah,” bisiknya. “Saya semalam gak bisa tidur. Mikirin Ustadzah terus.”
Ustadzah Alisha tergagap, lalu lekas menggeleng. “Kamu pulang aja, ya, Darto?”
Sebelum Ustadzah Alisha sempat bereaksi, tangan Darto bergerak ke bawah, ke ujung gamisnya yang menjuntai di lantai.
“Darto, jangan, Darto. ” Ustadzah Alisha berseru panik sambil menggeser kakinya, mencoba menghindar.
Tetapi Darto menahan pergelangan kakinya. Sentuhan itu membuat Ustadzah Alisha terkesiap. Kemudian, dengan satu gerakan pelan, Darto mengangkat sedikit ujung gamis itu. Hanya sedikit, sekadar memperlihatkan betisnya.
Ustadzah Alisha menahan nafas. lalu memukul tangan Darto, tetapi pukulannya lemah. “Darto. Udah, Darto.!”
“Saya cuma mau liat,”
“Darto, kamu gila!”
“Iya. Gara-gara Ustadzah.” Tangan Darto terus naik, melewati lututnya. Dan Ustadzah Alisha, dengan ngeri, menyadari bahwa ia tidak mengenakan apa-apa lagi di baliknya.
Ketika jemari kasar itu menyentuh kulit pahanya yang bagian dalam, Ustadzah Alisha tersentak hebat disebabkan sensasi sengat yang tiba-tiba di tubuhnya.
“Oho,” Darto berbisik. “Ustadzah beneran nurut, ya.”
Ustadzah Alisha terisak. Ia malu dan merasa kotor. Tetapi tubuhnya merespon dengan cara yang paling jahanam; lendir kemaluannya mulai keluar.
“Jangan nangis,” kata Darto sambil bangkit. Ia duduk sangat dekat di sofa sehingga bahu mereka bersentuhan.
Ustadzah Alisha masih menunduk, bahunya terguncang oleh isak tangis yang tertahan. Ia seperti gadis polos yang bingung, yang tak mengerti gejolak di dalam dirinya.
“Kenapa nangis?” tanya Darto. “Karena saya? Atau karena Ustadzah suka?”
“Diam!” bentak Alisha. “Kamu jahat!”
“Saya jahat,” Darto mengakui. “Tapi Ustadzah tetep nungguin saya.”
Ustadzah Alisha mencoba menarik tangannya ketika Tukang Galon itu hendak mengambilnya, tetapi ia tak cukup cepat.
Darto kemudian mengangkat tangan itu, lalu mengecup punggungnya. Satu kecupan. Lalu ia membalik telapak tangan itu, dan mengecup bagian dalamnya. “Saya suka Ustadzah,” kata Darto. “Aku suka semuanya. Sayapun suka Ustadzah pake hijab. Sayaa suka Ustadzah kalo lagi ceramah. Dan sayaaa suka kalo Ustadzah becek gara-gara saya.”.
Ustadzah Alisha merasakan pipinya memanas. Kemudian Darto mendekatkan wajahnya. Ustadzah Alisha bisa mencium bau rokok dan keringat dari tubuh pemuda itu. Ia ingin memalingkan muka, tetapi tubuhnya seolah terpaku.
“Dartoo, jangan disini. Dartoooo.” katanya. Darto sekonyong menyentuh bibir Ustadzah Alisha. Lidahnya bergerak memaksa masuk.
Ustadzah Alisha hanya diam, membiarkan Darto menjelajahi rongga mulutnya. Ketika Darto melepaskan ciuman itu, keduanya terengah-engah. Ustadzah Alisha tampak linglung, matanya sayu, bibirnya bengkak dan basah.
Runtuh sudah ia. Segala dalil, ingatan akan suami dan anak, statusnya sebagai Ustadzah, menguap begitu saja, digantikan oleh sensasi basah di antara kedua pahanya. Sementara Darto tersenyum puas. Tangannya masuk ke dalam gamis, mengusap perutnya, lalu naik ke atas. Ustadzah Alisha menggigil ketika tangan itu menyentuh payudaranya yang terbungkus bra.
“Darto…” pecah sudah desahnya.
“Saya tau Ustadzah mau ini,” Darto berbisik. “Sama kayak saya.”
Ia meremas payudara itu, membuat Ustadzah Alisha melenguh pelan. Perempuan alim itu kini tak lagi melawan. Ia malah menyandarkan kepalanya di dada Darto.
“Ke kamar, ya?”
Ustadzah Alisha tidak menjawab. Tetapi ketika Darto bangkit dan menarik tangannya, ia ikut berdiri. Kakinya terasa lemas, seperti jeli.
Ia, Ustadzah Alisha, Sarjana Pendidikan Islam , melangkah gontai, dituntun oleh seorang tukang galon yang tak tamat SD, menuju kamarnya sendiri.
***
Sekonyong Darto menutup pintu. Ustadzah Alisha hanya berdiri kaku di depan ranjang, tubuhnya yang tadi gontai kini membatu. Tidak pun ia berbalik atau berlari ketika pemuda itu melangkah mendekat.
Kemudian Darto memutar tubuh perempuan alim itu, memaksanya menghadap cermin di meja rias, lantas menekan bahunya pelan. Tubuh itu luruh, terduduk di tepi ranjang. Lutut mereka nyaris bersentuhan. Darto tidak ikut duduk. Ia hanya berdiri, menjulang, menatap pantulan perempuan itu di kaca.
Ustadzah Alisha menunduk dalam, menghindari bayangannya sendiri. Kemudian, Darto berlutut. Satu gerakan yang tak terduga—menyejajarkan wajahnya dengan pangkuan perempuan itu—Tangannya terangkat menuju peniti di bawah dagu.
Ustadzah Alisha tersentak. “Jangan…” Tetapi, peniti itu sudah terlepas. Darto menarik kain itu, melucuti simbol kesalehannya satu-satunya. Rambut hitam panjangnya—yang hanya pernah disentuh suaminya—kini terurai berantakan di bahunya. Betapa cepat. Kehormatan yang ia ceramahkan setiap sore di Masjid Al-Nurul itu kini teronggok di lantai, dibuang begitu saja oleh tangan kotor seorang tukang galon.
Darto bangkit. Tangannya bergerak ke resleting di punggung gamis katun biru pucat itu. Ustadzah Alisha memejamkan mata, pasrah sepenuhnya. Resleting itu turun tanpa hambatan. Kain itu melorot dari bahunya, ditarik paksa oleh Darto hingga terlepas dari tubuhnya, menyisakan ia yang terduduk hanya dalam balutan bra hitam. Ia sekonyong menyilangkan tangan di dada.
Tukang Galon itu tersenyum tipis. Dilihatnya tubuh seorang Ustadzah yang kini setengah telanjang di hadapannya, menggigil bukan main. Darto lantas melepaskan kausnya, melemparnya ke tumpukan hijab di lantai. Kemudian mendorong tubuh Ustadzah Alisha hingga terbaring.
Ustadzah Alisha melenguh kecil yang tertahan di tenggorokan, teredam oleh bantal. Sedang Darto naik ke ranjang, merangkak, mengambil posisi di atas perempuan itu. Ditahannya tubuhnya dengan kedua lengan, mengurung Ustadzah Alisha di bawahnya. Ditatapnya wajah yang pias itu.
“Ustadzah, buka matanya.”
Kelopak mata itu terbuka, menampakkan ketakutan, rasa malu, dan gairah yang bercampur aduk. Darto menunduk, bibirnya menyapu telinga Ustadzah Alisha. “Sudah basah,” bisiknya. Ustadzah Alisha terkesiap, wajahnya memerah padam.
Itu adalah kebenaran yang memalukan sebab tubuhnya telah mengkhianatinya jauh sebelum pemuda itu menyentuhnya; kepatuhannya pada perintah cabul untuk tidak memakai celana dalam adalah bukti awalnya. Tangan Darto kini mulai menjelajah. Mengusap perutnya, lalu turun. Ketika jemari itu menyentuh kulit pahanya, Ustadzah Alisha tersentak, mencoba merapatkan kakinya. Tetapi, Darto hanya menekan ringan, memaksanya terbuka.
Jemari Darto langsung menyentuh bagian yang paling sensitif, yang sudah licin dan berlendir. “Ah…” Ustadzah Alisha memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Darto menarik dagunya, memaksanya melihat.
Dilihatkannya jemarinya yang basah oleh cairan perempuan itu. “Ini penolakan Ustadzah?” ejeknya. Tangan Darto yang lain bergerak ke punggungnya, membuka kaitan bra dengan satu gerakan tangkas. Dadanya terbebas. Darto menahan kedua pergelangan tangannya, membentangkannya di atas kepala. Kini ia telanjang sepenuhnya, tak berdaya.
Darto lantas melepaskan sisa pakaiannya. Ustadzah Alisha memejamkan mata erat-erat, tak sanggup melihat kemaluan berbulu lebat yang selalu membuatnya terbayang-bayang.
Ia merasakan ranjang bergerak. Darto mengambil posisinya. Lutut pemuda itu menekan sisi pahanya, memisahkannya lebih lebar. Ia merasakan sesuatu yang keras dan panas menyentuh kemaluannya yang basah. Tubuhnya menegang, ini adalah titik akhir. “Darto… jangan…” katanya.
“Ustadzah nikmatin aja, ya?” jawab Darto. Ia tak memakai kondom. Kemarin ia memakainya. Hari ini, ia bahkan tidak bertanya. Kemudian, dengan satu gerakan pelan ia mendorong tubuhnya.
“Akh!” Jeritan Ustadzah Alisha berubah menjadi desah panjang yang menyakitkan. Tubuhnya terasa terbelah, terisi penuh. Panas. Sempit. Matanya terbelalak, menatap langit-langit, yang ia tiduri sepanjang tahun pernikahan. Darto diam sejenak, membiarkan perempuan itu beradaptasi dengan kemaluannya.
Lalu, ia mulai bergerak. Perlahan sekali. Maju dan mundur. Tangannya yang tadi dibentangkan kini mengepal erat, meremas sprei. Ini salah. Ini dosa besar. Ia akan masuk neraka. Tetapi, ya Tuhan, rasanya… Bibirnya yang tadi terkatup rapat, kini sedikit terbuka, melepaskan napas-napas pendek yang tercekat.
Darto mempercepat temponya sedikit. Bunyi dua tubuh yang beradu mulai terdengar. Basah dan memalukan. Tangan Ustadzah Alisha terlepas dari sprei. Ia tak tahu harus meletakkannya di mana. Sekejap ia letakkan di dada Darto, seolah ingin mendorong.
Tetapi Darto menangkap tangan itu. Digenggamnya erat. Ia tak lagi melawan. Kakinya yang tadi kaku, kini mulai mengendur. Matanya terpejam, dan ia membiarkan sensasi itu mengambil alih. Darto melihat perubahan itu. Ia tersenyum. Kemenangan total. Tempo gerakannya semakin cepat, semakin dalam.
Ustadzah Alisha tak bisa lagi menahan suaranya. Lenguhan-lenguhan pelan mulai terdengar setiap kali Darto menghunjam. Tubuhnya mulai bergerak membalas, tak sadar. Pinggulnya terangkat sedikit, menyambut setiap dorongan. Darto menunduk, bibirnya menyapu leher Ustadzah Alisha, lalu turun ke dadanya. Mulutnya melahap puting yang menegang.
“Akh!” Ustadzah Alisha memekik pelan, punggungnya melengkung hebat. Ia tak peduli lagi. Tangannya yang tadi diam, kini bergerak. Merayap, melingkari leher Darto. Jemarinya meremas rambut pemuda itu. Keduanya bergerak makin ganas. Decit ranjang terdengar memilukan, menjadi saksi bisu penghianatan di siang bolong.
“Darto… Darto…” Dengan beberapa tusukan terakhir yang dalam dan kuat, Darto melepaskan semuanya di dalam rahim perempuan itu. Hening. Hanya terdengar napas memburu. Darto ambruk di atas tubuh Ustadzah Alisha, tetapi hanya sesaat.
Ia berguling ke samping, terbaring menatap langit-langit. Ustadzah Alisha masih mematung. Telanjang. Basah. Hancur. Matanya terbuka menatap langit-langit yang sama. Satu tangannya bergerak pelan, menarik selimut, menutupi tubuh telanjangnya. memejamkan mata.
***
Ustadzah Alisha masih mematung di bawah selimut, punggungnya menghadap pemuda itu. Ia bisa merasakan sisa cairan Darto yang hangat mengalir pelan di antara pahanya, bercampur dengan lendirnya sendiri, membasahi sprei yang baru ia ganti kemarin. Matanya terbuka menatap dinding; potret pernikahannya yang tergantung di sana. Ia dan Farhan tersenyum, bahagia. Tetapi ia tidak merasakan apa-apa. Tubuhnya hancur, tetapi anehnya, juga terasa hidup.
“Saya masih mau lanjut, Ustadzah,” Di antara keheningan Darto berkata.
Ustadzah Alisha hanya memejamkan mata. Tubuhnya tersentak kecil, tetapi ia tak menjawab. Mau bilang apa? Jangan? Tetapi tubuhnya baru saja menjeritkan nama pemuda itu. Mau bilang iya? Ia seorang Ustadzah. Sekonyong, ia merasakan tangan Darto mendarat di pinggulnya, meremasnya dari balik selimut.
“Jangan… Darto…” katanya. “Udah…”
Segera saja Darto menarik selimut itu ke bawah dengan satu sentakan. Punggung putih mulus Ustadzah Alisha kini terpampang telanjang, berkilau oleh keringat. Pemuda itu merayapkan telapak tangannya di punggung itu, merasakan tekstur kulit yang halus di balik jemarinya. Ustadzah Alisha menggigil hebat.
“Balik badan, Ustadzah.”
Ustadzah Alisha menggeleng, wajahnya masih tersembunyi, menempel di bantal. “Engga…”
“Saya gak bilang Ustadzah boleh nolak.” Sekonyong, ia mendorong bahu perempuan itu, memaksanya telungkup. Ustadzah Alisha terkesiap, kedua tangannya kini terhimpit di bawah dadanya. Ia mencoba bangkit, tetapi Darto menekan punggungnya dengan satu tangan.
“Darto… saya bukan…!”
“Saya tahu Ustadzah bukan pelacur,” Darto berkata. “Sebab Pelacur gak sesempit Ustadzah.”
Penghinaan itu membuat Ustadzah Alisha mendesah entah marah entah pasrah. Ia pun tak tahu.
Darto kemudian menarik pinggulnya. “Saya mau ngentotin Ustadzah dari belakang.”
“Jangan!” Kini suaranya lebih keras. Ia panik. Ini adalah posisi yang tak pernah ia lakukan. Ini posisi binatang. “Saya mohon, Darto… Malu…” Demikian yang ia lakukan; merapatkan kedua kakinya, menekan tubuhnya lurus ke kasur, menolak untuk ditekuk. Ia menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk melawan.
“Malu?” Darto tertawa kecil. “Tadi Ustadzah meluk saya. Tadi Ustadzah panggil nama saya. Sekarang baru malu?”
Tangan Darto mencengkram kedua sisi pinggulnya. Kuat. Ia tak bisa bergerak. Kemudian, Darto menggunakan lututnya untuk memaksa satu kaki Ustadzah Alisha menekuk. Lalu satu lagi. Ustadzah Alisha memberontak, kakinya menendang-nendang lemah, tetapi tenaganya sudah habis terkuras.
Demikian, dalam beberapa detik, ia sudah berada dalam posisi itu. Menungging dengan wajah terbenam di bantal.
Darto berlutut di belakangnya. Ia tidak langsung masuk. Pemuda itu sengaja menunggu. Ustadzah Alisha bisa merasakan panas tubuh Darto di punggungnya, meski mereka tidak bersentuhan.
Lalu, satu tamparan mendarat.
PLAK!
Suara telapak tangan Darto yang menghantam pantatnya, terdengar begitu keras. Ustadzah Alisha menjerit tertahan di bantal.
“Bagus,” gumam Darto. “Putih. Kenyal.”
Kemudian ia merasakan jemari Darto Mengusap bekas tamparan tadi, lalu bergerak pelan, menelusuri belahan pantatnya. Ustadzah Alisha menahan napas. Jemari itu turun, menyentuh lubang duburnya yang terkunci rapat, lalu bergerak ke depan. Ke tempat yang sudah basah dan bengkak.
Darto memisahkan kedua bibir pantatnya dengan tangannya. Ustadzah Alisha bisa merasakan udara dingin kamar menyentuh kemaluannya yang terbuka. Ia mencoba merapatkan kakinya, tetapi Darto sudah berada di antara kedua lututnya, menahannya agar tetap terbuka lebar.
“Lihat, Ustadzah. Merah,” kata Darto, meskipun ia tahu perempuan itu tak bisa melihat. “Udah bengkak. Becek pula.”
Untuk membuktikannya, Darto memasukkan satu jarinya ke dalam lubang vagina itu. Ustadzah Alisha melenguh panjang. Cairannya melimpah. Darto menarik jarinya, lantas menggunakan cairan itu untuk membasahi jari-jarinya yang lain. Kemudian Jarinya bergerak ke atas, menemukan tonjolan kecil yang sensitif di bagian depan. Kelentitnya.
Darto mulai memutarnya. Pelan.
“Nnggh… Darto…”
Penolakan itu sirna. Lenyap. Pinggulnya yang tadi kaku menahan malu, kini mulai bergerak. Hanya sedikit. Gerakan tak sadar, maju-mundur, mendorong dirinya sendiri ke sentuhan jari pemuda itu.
Inilah kemunafikan itu. Inilah kedok yang robek. Mulutnya menggigit bantal, menahan jerit istighfar yang tak kunjung keluar, tetapi pinggulnya bergoyang, meminta lebih.
“Nikmat, Ustadzah?” Darto terkekeh.
Ustadzah Alisha tak menjawab. Ia hanya bisa terisak sambil terus bergerak tak terkendali.
Darto menghentikan sentuhan jarinya. Ustadzah Alisha sekonyong mengerang kecewa. Ia ingin sentuhan itu kembali.
“Mau lagi?” tanya Darto.
Ustadzah Alisha membenturkan dahinya ke bantal. Ia malu untuk mengangguk, tetapi tubuhnya tidak bisa diam.
“Minta,” kata Darto.
“Darto…”
“Minta, Ustadzah. Bilang, ‘masukin lagi, Darto’.”
“Kamu…”
“Bilang.” Darto menampar pantatnya lagi.
PLAK! Lebih keras.
“Ah! Iya… iya… masukin lagi… Darto… mohon…”
Kalimat paling jahanam itu akhirnya ia ucapakan.
Darto tersenyum puas. Ia mengambil posisinya. Kepala kemaluannya yang tumpul dan keras kini menekan lubang vagina Ustadzah Alisha dari belakang. Kemudian, Darto menghunjam. Dengan satu dorongan kuat, ia membenamkan seluruh kemaluannya.
“AAAAHHH!” Jeritan Ustadzah Alisha meledak, tak lagi tertahan bantal. Punggungnya melengkung ke atas bagaikan busur panah yang ditarik pemanah, tubuhnya terangkat dari kasur. Rasanya seperti disambar petir. Kemaluannya terasa robek.
Darto tidak memberinya waktu untuk bernapas. Ia langsung bergerak. Menghunjam. Menarik. Menghunjam.
Suara yang terdengar kini begitu vulgar. Suara cecap basah yang keras, beradu dengan bunyi kulit paha mereka yang saling bertabrakan, dan derit ranjang yang kini berbunyi gila-gilaan, memprotes dua tubuh yang sedang berzina di atasnya.
Ustadzah Alisha tak bisa berbuat apa-apa. Wajahnya masih terbenam di bantal. Kedua tangannya yang tadi lemas kini mencengkeram sprei, meremasnya sekuat tenaga.
Tetapi inilah balasannya. Balasan malu-malu yang tak lagi bisa disembunyikan.
Setiap kali Darto menghunjam, pinggul Ustadzah Alisha kini aktif membalas. Ia mendorong pantatnya ke belakang, menyambut setiap tusukan, mencoba menelan kemaluan Tukang Galon itu lebih dalam lagi. Ia tak lagi peduli. Rasa malu itu telah berganti menjadi berahi yang tak tertahankan.
“Gini, Ustadzah? Suka?” Darto menggeram di telinganya. Satu tangannya mencengkeram pinggul Ustadzah Alisha, sementara tangan satunya mencengkeram rambut panjang perempuan itu, menarik kepalanya ke belakang sedikit, agar ia tak bisa lagi bersembunyi di bantal.
“Ah… ah… Darto… iya… gitu…” Ia terengah-engah.
“Lihat Ustadzah… goyangnya jago juga,” ejek Darto. Ia mempercepat temponya. Membajak tubuh perempuan itu dari belakang tanpa ampun. Tubuh Ustadzah Alisha terdorong maju mundur di atas kasur. Keringat mereka bercucuran, membasahi sprei, membasahi punggung Ustadzah Alisha yang kini memerah karena tamparan dan cengkeraman.
“Lagi… Darto… lebih…”
Siapa yang bicara itu? Apakah itu Ustadzah Alisha? Perempuan alim itu? Dia sendiri tak tahu. Ia hanya menuruti insting hewan yang baru saja ia temukan. Iapun menggoyangkan pinggulnya lebih liar, mencoba mengimbangi Darto yang brutal.
PLAK! PLAK!
Darto menampar kedua sisi pantatnya bergantian.
Keras.
Ustadzah Alisha menjerit tinggi. Sensasi perih di kulitnya berbaur dengan sensasi penuh di dalam vaginanya, menciptakan sebuah ledakan di otaknya.
Ia tak bisa menahannya lagi.
Tubuhnya menegang kaku. Pinggulnya terhenti di udara, lantas bergetar hebat. Ia merasakan gelombang panas meledak dari dalam kemaluannya, membanjiri kemaluan Darto. Ia orgasme. Menjerit, meraung di bantal, tubuhnya kejang tak terkendali.
Tetapi Darto tidak berhenti.
Ia justru semakin beringas. Ia mencengkeram pinggul Ustadzah Alisha, menahannya agar tak lari, dan terus menghunjam tubuh yang sedang kejang itu.
“Belum, Ustadzah… bareng…” geramnya.
Ia memompa lebih cepat, dalam, dan kasar. Ustadzah Alisha hanya bisa pasrah, tubuhnya menerima setiap tusukan dalam keadaan setengah sadar. Hanya butuh beberapa detik. Darto menggeram panjang dibersamai punggungnya menegang. Ia menghunjamkan kemaluannya dalam-dalam, menahannya di sana, lantas menyemburkan cairannya lagi di dalam rahim perempuan itu.
Selesai.
Ia ambruk di atas punggung Ustadzah Alisha, menekan perempuan itu ke kasur dengan seluruh bobot tubuhnya.
Hening.
Napas mereka memburu, mengisi kamar. Bau keringat, bau anyir air mani, dan bau seks yang pekat kini memenuhi ruangan itu.
Darto berbaring di atasnya selama hampir satu menit penuh. Ustadzah Alisha terdiam di bawahnya, lumpuh. Dia tak bisa bergerak. Iapun tak mau bergerak. Ia hanya ingin mati.
Kesalehannya telah robek.
Hancur berkeping-keping.
Akhirnya, Darto berguling. Ia bangkit dari ranjang. Tubuhnya telanjang, berkilau oleh keringat, kemaluannya terkulai lemas, basah oleh cairan mereka. Ia menatap Ustadzah Alisha yang masih terkapar dalam posisi menungging, tak bergerak, pantatnya memerah dan basah.
Pemuda itu tak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil handuk Farhan yang tergantung di balik pintu.
“Saya mau mandi,” katanya. “Gerah.”
Kemudian, ia berjalan santai keluar dari kamar, menuju kamar mandi, seolah ia adalah pemilik rumah itu. Meninggalkan perempuan alim itu sendirian, terkapar telanjang di atas ranjang pernikahannya yang kini telah ternoda.